Benar-benar hari yang melelahkan pikirku. Setelah seharian aku berjuang demi proposal ku tersayang. Selepas shalat isya’ aku membaringkan tubuh ku yang sudah sangat lelah, tapi kali ini aku sudah agak santai karena manajer memberikan acc untuk proposalku, “yahh tinggal sedikit perbaikan lagi pasti beres”. Mataku pun mulai terasa berat, sekilas aku teringat kembali wajah Rita, pacar Dedi temanku, yah dia tadi sore ke kantor menjemput Dedi, entah mau kemana mereka aku juga tidak peduli, “semoga aja Dompet si Dedi bisa pulang dengan utuh dan selamat, bakal diteror habis-habisan tuh dompet nya Dedi sama si Rita, he heh”. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku berpikir kalau wajah si Rita mirip dengan Nisa, mata mereka, hidung, bibir, postur nya, bedanya Nisa bukan cewek matre karena dia memang sudah kaya. “bagaimana ya kabar Nisa sekarang”, pikirku. Nisa adalah pacarku semasa SMA, bisa di bilang dia lah bidadari penyelamat ketika aku masih sulit lepas dari kenangan Yuni, sejak pertama kali bertemu Nisa, aku langsung jatuh hati, selain cantik dia juga sangat ramah, meski anak orang kaya Nisa jauh dari sifat tengil dan sombong, mungkin juga karena sifatnya yang asyik itu aku naksir Nisa, tapi jalan menuju hatinya si Nisa bukan jalan yang mudah dan mulus, tapi sangat terjal dan banyak rintangannya, maklum Nisa salah satu primadona di SMA ku, jadi saingan juga banyak, tapi entah kenapa aku yang beruntung terpilih jadi pacar si Nisa. Aku masih ingat ketika aku memutuskan untuk ikut bertarung memperebutkan cinta Nisa, aku sangat sadar kalau perjuangan bakal sangat berat bahkan teman-temanku kompak pesimis terhadap peluang ku. “Panggilan kepada saudara Yoyok, mohon segera turun ke bumi pleasse, tanggungan utang di warung tolong diselesaikan”, Gurau Ardi temanku. Aku juga masih ingat ketika aku memberanikan diri untuk pertama kalinya apel malam minggu ke rumah Nisa sambil membawa sekotak pisang goreng yang memang kesukaan Nisa dengan semangat 10 November aku memacu vespa milik ayah, tapi setelah sampai di rumah Nisa aku jadi heran, kenapa banyak mobil ya di rumah Nisa, “seingatku orangtuanya Nisa itu pejabat, tapi kok rumahnya seperti buka praktek pengobatan alternatif gini ya?”, “cari siapa dik”, tanya seorang laki-laki di balik pagar rumah Nisa, “wah ternyata rumah Nisa di jaga satpam, hebat”, batinku, “Eh anu pak, saya temannya Nisa, Nisa ada pak”, “ada, tapi adik kayaknya harus antri, tamunya neng Nisa kalo malam minggu banyak”, sahutnya dengan tersenyum, aku mulanya tidak paham maksud pak satpam ini tapi setelah aku masuk ke teras rumah Nisa, aku benar-benar terkejut karena di sana Nisa cewek seorang diri, dikelilingi lima sampai enam cowok, dan tongkrongan mereka keren-keren semua, jelas gak mungkin aku nekat merengsek masuk ke tengah-tengah mereka terus nyodorin kotak isi pisang goreng ke Nisa, tapi aku nekat, “Assalamualaikum Nisa”, sambil melambaikan tangan ke arah Nisa, “Yoyok, waalaikum sallam, masuk sini Yok”, Nisa agak terkejut tapi dia segera berdiri sambil tersenyum sumringah menghampiriku, “Eh Nis kamu hebat, aku baru tahu kalau kamu buka praktek pengobatan alternatif kalo malam minggu, sampe antri mobil nya”, “ha ha bisa aja kamu Yok, ayo masuk, aku kenalin, mereka temanku”, “Eh enggak Nis terima kasih, aku cuman sebentar mau nganter ini, oleh-oleh dari ibu ku”, aku menyodorkan kotak pisang goreng yang kubawa dari rumah ke pada Nisa, “oh ya mereka itu benar-benar teman-temanmu atau para pejuang cinta yang memperjuangkan cintanya hayoo?”, godaku, “bisa aja kamu Yok, oh ya terima kasih oleh-olehnya kamu tau aja kesukaanku”, “yah, aku pamit dulu yah, kasihan pasien-pasien kamu udah pada nunggu tuh, hi hi”, aku pun segera bergegas pulang, sejak saat itu aku pun mulai bersemangat berjuang demi cinta si Nisa, meski sadar bahwa banyak saingan berat tapi aku tidak akan menyerah.
Setelah Selama satu tahun lamanya berjuang mendapatkan cinta Nisa, akhirnya aku berhasil, dia resmi menjadi pacarku, wow.. aku masih ingat betul bagaimana gembira nya saat Nisa mengangguk dan berkata “Ya”, saat dia ku tembak. Selama hampir dua tahun lamanya aku dan Nisa berpacaran dan banyak kenangan, senang, sedih, lucu atau yang bikin sebel yang kami lewati bersama, Nisa juga berhasil membuatku move on dari Yuni, tapi sayang setelah aku mulai yakin dengan cinta sejati yang aku temukan, lagi-lagi aku harus berhadapan dengan pahitnya takdir, Nisa mendapatkan beasiswa dari salah satu universitas terkenal di Australia dan dia memilih untuk mengambil beasiswa tersebut, sebenarnya kami sama-sama berat untuk berpisah tapi Nisa tak kuasa untuk menolak apalagi melawan keinginan orangtuanya yang ingin anaknya mendapatakan pendidikan terbaik, dan aku juga sadar aku tidak mungkin menghalangi Nisa meraih masa depan yang lebih baik hanya demi ego ku, lagi pula aku juga sadar orang-orang seperti orangtua Nisa dengan Jabatan dan status sosial tinggi pasti memiliki idealisme tinggi juga, orang-orang seperti mereka itu kan punya idealisme, di dunia hidup kaya dan bahagia, di akhirat masuk surga. Awalnya kami merasa yakin kami masih bisa menjalani hubungan jarak jauh, tapi seiring berjalannya waktu kami akhirnya putus kontak, dan beberapa tahun kemudian aku mendengar kabar dari kawan SMA bahwa dia sudah tunangan dengan anak salah satu pejabat teman ayahnya. Malam pun semakin larut dan mulai melarutkan kesadaranku ke alam mimpi.
“maaf pak, saya terlambat ini proposalnya sudah saya perbaiki sesuai saran dari bapak”, aku tergopoh-gopoh masuk ke ruangan pak Wiwin manajer ku, “ok Yok, kamu taruh di meja situ, biar saya cek dulu, nanti kamu saya info lagi”, “kamu sakit? kok agak kacau gitu”, tanya pak wiwin, “Yah, biasa pak, kurang tidur” jawab ku sekenanya, saya permisi dulu pak”, aku pun buru-buru pamit dari ruang pak Wiwin, “ok, nanti kamu saya info lagi”. Payah, hampir saja aku mengacaukan hari ini, terlambat berangkat kerja padahal aku sudah ada janji dengan manajerku, ini karena mimpi itu lagi, mimpi yang beberapa hari ini rutin membayangi dan sulit untuk mengabaikannya begitu saja. Sebenarnya apa arti dari mimpi ini, aku terus melamun, sambil berjalan menuju tempat parkir sepeda motor, sengaja aku ijin pulang agak cepat karena aku agak kurang enak badan, tiba-tiba, “aduh, mas hati-hati kalo jalan”, “eh maaf mba, maaf”, tiba-tiba aku menabrak seorang wanita muda, aku mencoba meminta maaf sambil ikut membantu mengambil barang-barang milik wanita itu yang terjatuh, “Yoyok, kamu yoyok kan? kamu lupa ya sama aku?”, aku terbengong melihat wanita yang ada di depan ku, “Siapa ya?”, tanyaku, “masa kamu lupa sih, aku Rani, Rani Kartika’ kita kan teman satu kuliah dulu”, “ohh, Rani, anak akutansi, Masya Allah sory aku lupa, sudah lama sih kita gak ketemu”, sejenak ingatanku melayang ke masa kuliah, yah Rani adalah teman kuliah ku dulu, “kamu habis dari mana Yok, ini mau kemana?”, “oh ini aku kerja di kantor ini, sekarang aku mau pulang, maklum lagi gak enak badan”, “oh, jadi kamu kerja di sini, wah hebat dong”, “kamu mau kemana Ran?”, tanyaku, “Oh ini, aku mau nganterin Fotokopian buku, kebetulan ada orang sini yang foto copy dokumen lumayan banyak”, “kamu punya usaha foto copy Ran?”, “Nggak kok ini usaha suamiku, kebetulan dia lagi sibuk, jadi kita bagi tugas deh”, jawab Rani sambil membetulkan barang bawaannya, “Sory Yok, aku lagi buru-buru nih, soalnya lagi ditunggu orang yang pesen foto copy”, “kapan-kapan, kita ngobrol lagi ya yok”, Rani pun bergegas menuju ke dalam gedung kantor, sejenak aku tersenyum kepadanya, setelah itu aku pun juga bergegas menuju sepeda motorku.
Rani, dalam perjalanan pulang, ingatanku kini kembali ke masa kuliah. Rani adalah cewek yang dulu pernah aku taksir, dia cewek yang cantik dan supel, kami dulu kuliah di kampus yang sama, hanya beda jurusan, dia akutansi dan aku jurusan desain, aku kenal Rani karena kita sama-sama ikut kegiatan UKM musik, aku dan Rani banyak menghabiskan waktu berama, maklumlah dia adalah bendahara sedangkan aku adalah wakil ketua di UKM tersebut, karena sering bersama ini lah mulai timbul rasa sukaku pada Rina, pelan tapi pasti aku mulai menyusun langkah-langkah terprogram dan terencana untuk PDKT ke Rani, mulai dari membantu menyusun anggaran keuangan organisasi, antar jemput pulang, sok jago musik dan mengajari Rina main gitar, sampai main ke rumah Rina tanpa alasan yang jelas. Okelah banyak strategiku yang terkesan asal dan sporadis tapi bagaimanapun juga aku harus berhasil mendapatkan Rani, karena dia memang sosok aku yakini layak menggantikan Yuni dan Nisa, tapi entah kenapa Rina tampak santai-santai saja menghadapi semua strategi PDKT frontal dari ku. Sampai suatu saat akhirnya aku dengar kabar bahwa Rina sudah jadian dengan salah satu mahasiswa tekhnik yang juga ketua HIMA jurusan tekhnik, itulah alasan kenapa Rina cuek saja dengan semua perhatianku selama ini, dan impianku mendapatkan pengganti Yuni dan Nisa pun pupus.
Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya karena proposal sudah selesai, tinggal tunggu approval dari pak Wiwin, kali ini aku bisa sedikit santai, selesai shalat isya aku membuka kembali laptop ku, ditemani secangkir susu hangat aku mereview kembali proposal event promo ku, tapi mataku tampaknya sudah mulai lelah dan sulit diajak kompromi, perlahan aku pun terlelap, tertidur, tapi sejenak kemudian ada suatu aroma yang menusuk lembut indra penciumanku, aroma yang sangat lembut dan wangi, aroma yang belum pernah aku cium sebelumnya di toko-toko parfum atau toko-toko aroma therapy manapun dan belum pernah ada teman sekantorku yang pernah memakainya, tapi entah kenapa aroma wangi ini sangat familiar, sejurus kemudian ada suara wanita yang berbisik di telingaku, “Assalamualaikum”, kemudian aku mendengar suara yang sangat lembut memanggil namaku, “mas Yoyok, bukalah matamu”, “mas Yoyok, tataplah wajahku”, aku pun perlahan membuka mata dan mencari titik fokus yang masih kabur, “mas, aku sudah datang”, pelan tapi pasti aku mulai bisa melihat sosok yang memanggil namaku, Subbhanallah cantik sekali, tampak seorang wanita berkulit seputih sutera dengan rambut panjang tergerai dan memakai baju terusan berwarna hijau tiba-tiba sudah berdiri di samping tempat duduk ku, “ssiapa kkkamu?”, tanyaku ragu, “aku kekasihmu, Allah memberi petunjuk bahwa engkau akan menjadi jodohku di syurga”, jawabnya dengan tatapan lembut tapi tegas, “aku adalah yang dijanjikan Allah di surat Al Waqi’ah dan Arrahman”, “a..apa maksudmu?”, “aku adalah yang dijanjikan oleh Allah untuk para syuhada yang syahid membela agamanya”, “aku adalah yang dijanjikan oleh Allah untuk hambanya yang taat dan takut kepadaNYa”, aku terbengong dan bingung dengan semua jawabannya, “aku datang atas izin Allah untuk menghibur hati mas Yoyok”, “a..apa maksud ucapan mu?”, tanya ku lagi kebingungan, “Mas yoyok tidak usah sedih, karena Allah selalu mendengar setiap kali mas Yoyok beristighfar karena gelisah dengan jodoh yang tak kunjung datang”, “ini adalah karunia dari Allah untuk setiap zikir dan shalawat yang terlantun dari hati mas Yoyok”, “karena ini adalah terakhir kalinya aku menemui mas Yoyok di dunia ini, aku ingin berpesan agar mas Yoyok rajin mendirikan shalat Lail, karena itu adalah mas kawin bagi kami, para bidadari syurga, dan jangan pernah gelisah karena seandainya ikhtiar Mas yoyok mencari jodoh di dunia ini belum berhasil, di syurga nanti akan ada kami yang akan mencintai dan melayani mas Yoyok dengan ikhlas penuh rasa cinta kasih”, “Assalamualaikum”, perlahan sosok cantik itu memudar, menghilang, meninggalkan aku yang terbengong kebingungan, tetapi bau harum lembut yang tertinggal dari sosok wanita tadi seolah menghipnotis ku dan membuat mataku berat. “Astaghfirullah hal’adzhim”, tiba-tiba aku tersadar dari tidurku, “tidak, mimpi itu lagi”, sayup-sayup aku mendengar adzan shubuh mulai berkumandang, aku pun segera bangun untuk mengambil air wudlu sambil terus bertanya dalam hati, “ya Allah, berilah hambamu petunjuk ya Allah”, “sebenarnya apa maksud dari mimpi yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam tidur hambamu ini”, “apakah aku akan selamanya sendiri tanpa pernah mengenal cinta sejati seumur hidupku?”, “aku hanya bisa pasrah dan berharap yang terbaik dari engaku ya Allah dan aku ikhlas menjalani takdir dari mu, ya Robbal Aalamiin”.
Cerpen Karangan: Wahyudi Warsaintia
Facebook: https://www.facebook.com/wahyudi.warsaintia
Facebook: https://www.facebook.com/wahyudi.warsaintia
keren bro...
ReplyDelete