Wednesday, 8 October 2014

Bidadari Dalam Mimpi (Part 1)

“Astagfirullah”, aku terbangun secara tiba-tiba dari tidurku, “MasyaAllah”, “mimpi ini lagi”, batinku. Sudah lebih dari satu bulan ini aku terus mendapat mimpi aneh ini, yah walaupun tidak setiap hari, tapi ini terus datang pada ku, mimpi yang sama, “apa artinya mimpi ini”.
Namaku Yoyok, aku seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta di Yogyakarta, banyak temanku yang bilang kalau akhir-akhir ini aku agak berubah, agak aneh, pokoknya lain dari seorang Yoyok yang mereka kenal sebelumnya. “kamu, ini sedang mengalami krisis kepercayaan diri Yok”, “yang kamu alami ini Disorientasi Psycology, dan itu lumrah karena kamu sedang stress karena proposal kerja itu”. kata dedi teman kerjaku dari dept keuangan. “Hallaaah, kemeruh awakmu Ded, ya kamu itu terkena disorientasi. Disorientasi jurusan kuliah”, Sahutku, “orang lulusan akutansi, tapi malah moco buku-buku psycology, Tata boga, terus iku buku kesehatan wanita, di kamar kos mu kemaren, punya siapa?”. “Lho, sek to, aku ini temanmu lho, aku care sama kamu, lha kok malah nyengit gitu, jadi lulusan sarjana itu kita harus berwawasan luas, harus diversifikasi ilmu pengetahuan,” sahutnya lagi, “ayo ngomong, ada masalah apa to?”, kata Dedi sambil merangkul pundak ku, “Halaaah gak usah ngrangkul-ngrangkul pundakku” aku menyingkirkan tangan lebay Dedi dari pundakku, “Aku ini gak sedang stress, ya memang sih proposal kerjaku ku ditolak terus sama Pak Wiwin, tapi aku, Hmm, maju teruuus, kalo perlu Pak Wiwin sing tak gawe stress, soalnya dia tak tekani terus” kataku sambil mengacungkan kepalan tangan ke muka Dedi, Jujur sebenarnya si Dedi ini teman ku yang paling akrab, kami juga satu kos, tapi kadang aku agak males jalan bareng sama dia, alasan yang pertama, ya sudah jelas, aku ini cowok ngapain jalan bareng sama cowok, yang kedua meskipun si Dedi ini normal, tapi kalau sama aku, dia suka kelewat lebay. malah ada beberapa teman yang iseng update foto-foto aku dan dedi lagi berdua di sosial media, dengan status, “selamat untuk dedi karena baru jadian dengan Yoyok”.
Malam semakin larut, dan aku merebahkan diri di ranjang kamar kos ku, setelah lelah seharian berkutat dengan laptop, maklum proposal kerjaku ini penuh dengan revisi, padahal aku sebetulnya sangat yakin sekali semua rencana kerjaku di proposal itu pasti langsung di acc pak Wiwin, manajer ku di Dept pemasaran, tapi perkiraanku salah, yang membuatku pusing adalah, kata manajerku proposal event promo salah satu produk minuman milikku itu terlalu kuno, terlalu klise, kurang kreatif atau apalah, aku sendiri bingung padahal proposal ini sudah aku buat dengan sangat detail dan dengan perencanaan yang matang, “kuno? nggak mungkin, event-event seperti ini kan sedang jadi trend anak muda sekarang”, pikirku. “Aku yakin sekali kalau event ini sukses, nama produk yang kita promosikan pasti ikut naik, kan produk ini segmennya memang anak muda”. Tapi sudah lah, saat ini mataku sudah semakin berat, besok saja dipikir lagi. Tapi jujur sebenarnya bukan masalah proposal ini yang membuatku agak resah saat ini. “Sebenarnya apa artinya yah?”, lagi-lagi rasa penasaranku terusik dengan mimpi yang akhir-akhir ini aku alami, mimpi yang sama, “apakah mungkin?”, “tapi tidak mungkin, heh, heh jangan sampai terjadi ah”, sebuah pertentangan terjadi dalam diri ku, entah kenapa terbersit sebuah rasa khawatir, atau lebih tepatnya perasaan campur aduk antara khawatir, senang dan sedikit tidak percaya. “Seandainya ini memang takdirku, tapi apa ya setragis ini?”.
Drrt, drrt, tiba-tiba telpon genggam ku bergetar, aku pun terbangun dari ranjang dan menghampiri telpon genggam ku yang tergeletak di meja, “selamat malam Yoyok, aku Ni made, sory ganggu tidur kamu, mmm, boleh utang gak?”. bunyi pesan pendek di telpon genggam ku, Ni made adalah sekertaris direktur keuangan di perusahaan ku, dia adalah karyawati primadona di kantorku, banyak yang bilang dia mirip bintang film Ineke Koesherawati, tiap kali dia lewat, waktu seolah berhenti berdetak, bumi seolah berhenti berotasi dan semua makhluk ciptaan Allah yang berkelamin cowok langsung Freezzee, beku dari otak sampai ke hati. Tapi sayang aku tidak akan mungkin pernah Ge’er walau si Ni Made ini kirim sms ratusan kali ke telpon genggamku, karena nomor Hp si oknum di balik sms ini sudah jelas, “Ded, utang yang minggu kemaren belum kamu lunasi, gak ada utang lagi, males”, aku membalas Sms yang masuk ke inbox hp ku, Drrt, drrrt, telpon genggamku bergetar lagi. “50000 aja Yok, please”, bunyi sms tersebut, “Ya wis besok”, balas ku singkat.
Aku kembali merebahkan tubuhku ke ranjang, Drrrt, drrt, sesaat kemudian telpon genggamku berbunyi lagi, tapi aku terlalu malas untuk berjalan kembali ke meja, paling juga sms si Dedi, yah dia memang sering utang duit, nggak masalah sih sebenarnya karena dia juga disiplin balikin duitnya, sebenarnya masalah si Dedi ini adalah Rita, ceweknya Dedi, nih cewek sebenarnya lumayan matre juga, kalo diajak makan dia maunya di cafe-cafe mahal plus selalu minta dibeliin pulsa, dan itu rutin tiap minggu, Untung keluarga si Dedi ini lumayan kaya, ayah dan ibunya sama-sama kerja di bank plat merah, sedang kakaknya punya usaha warnet yang cukup sukses, jadi selain dari gaji bulanan, kiriman tiap bulan juga lancar, konon kabarnya si Dedi ini ngaku ke orangtuanya kalau upahnya di bawah UMR jadi wajar orangtua dan kakaknya merasa kasihan dengan Dedi, dan akhirnya mereka tetap rutin kirim uang tiap bulan, hehh dasar si Dedi, memang tengik tu orang. Tapi tetep aja kalo buat nurutin cewek matre, uang berapapun dengan kombinasi gabungan apapun, pasti bakal ludes. Ah biarin aja si Dedi dengan masalah ke matre’an ceweknya, kan aku sudah berulang kali beri nasehat ke dia. “Yoyok, yoyok, naif sekali kamu, seolah-olah kamu lebih beruntung dari Dedi, tapi coba lihat faktanya, siapa yang jomblo menahun”, sekali lagi pikiran ku melayang layang gak jelas. “beruntung kamu Ded, biarpun Rita itu matre, tetep dia itu cewek mu, cantik lagi, lha aku”, batinku lagi.
Tiba-tiba ingatanku melayang kembali ke masa ketika aku masih duduk di bangku smp, Yuni, yeah cinta pertamaku, aku sendiri juga heran, saat itu kami berdua masih sama-sama bau kencur, Yuni adalah adik kelasku, tapi kenapa waktu itu aku bisa suka sama dia, malah terlibat hubungan cinta-cintaan segala, aneh. Aku juga masih ingat sekali ketika itu tidak ada yang lebih penting dari main video game dan sepak bola, tiap hari sepulang sekolah aku dan teman-teman smp ku, menghabiskan waktu berjam-jam di game center, sedang sepak bola, itu adalah kegiatan rutin ku di hari minggu. Pertama kali aku berkenalan dengan Yuni aku juga masih ingat sekali, saat itu kepalanya terkena bola yang aku tendang, yah saat itu di smp ku sedang ada pertandingan bola antar kelas, dan aku ikut memperkuat tim kelasku, sedang yuni adalah suporter dari team kelasnya, setelah terkena tendangan geledek ku tidak jelas dan super ngawur itu, yuni langsung pingsan, kontan saja aku ikut panik, saat itu aku langsung ikut membopong dia ke UKS sekolah. Sejak kejadian itu kami jadi dekat, dari yang sekedar sok-sokan khawatir dengan tanya-tanya kondisi, menemani dia ke perpustakaan sekolah, sampai akhirnya kita sering pulang bareng. Yuni sebenarnya tidak terlalu cantik, lagipula saat itu aku juga masih bingung dengan definisi cantik, visualisasi dari kata cantik saja saat itu juga masih kabur, tapi yang jelas bagiku Yuni saat itu adalah seorang cewek dengan kepribadian yang cukup menarik, apa lagi dia itu lucu dan ramah, dan aku juga masih ingat kami ternyata sama suka sepak bola, benar-benar sebuah kejutan, jarang banget kan cewek suka sepak bola, dan uniknya dia dan aku suka team sepak bola yang sama, dan pemain favorit kami juga sama.
Tanpa terasa selama lima bulan aku dan Yuni sudah semakin dekat, aku pun juga sudah mulai melupakan hobi ku bermain game bersama teman-temanku, latihan sepak bola setiap minggu pun aku juga mulai sering absen, karena aku lebih suka di rumah, telpon-telponan sama Yuni, malah kadang aku yang nekat ke rumah nya, padahal gak tau mau ngapain. Saat itulah aku mulai bingung, ada sensasi aneh tiap kali aku bertemu Yuni, jantung berdegup kencang, ada sedikit perasaan gugup bercampur dengan perasaan senang yang luar biasa, dan kalau tidak ketemu Yuni satu jam saja, rasanya berat banget, seperti nggak ketemu satu semester. Tapi sayang, Yuni tiba-tiba menjauh dari hidupku, dia harus ikut orangtuanya yang di pindah tugaskan ke luar pulau, tepat pada saat aku mulai menyadari perasaanku pada Yuni dan berniat untuk mengatakan langsung, aku benar-benar terpukul dan sedih sekali saat itu. “Seandainya kamu tidak pergi jauh Yun”, aku menarik nafas dalam-dalam. Malam pun semakin bertambah larut dan aku juga sudah tak kuasa lagi menahan rasa kantuk.
Keesokan harinya, aku berangkat ke kantor dengan banyak sekali pertanyaan dalam pikiranku, “Ya Allah, mimpi itu lagi, tadi malam, kenapa datang lagi?”. ini sudah yang kesekian kali nya mimpi itu datang dalam tidurku, “sebenarnya apa maksud dari mimpi itu?”. Kalau saja mimpi itu datang cuman beberapa kali saja dalam tidurku, mungkin masih bisa ku anggap sebagai bunga tidur biasa, tapi kalau aku mengalami mimpi yang sama setiap malam, selama hampir satu bulan apakah aku masih bisa menganggapnya sebagai bunga tidur. “Yok, Gimana?”, tiba-tiba Dedi menegur ku dari belakang sambil menepuk pundakku, dan sukses membuyarkan lamunanku, “Piye Yok, ada kan? urgent nih Yok”. kata Dedi sambil memelas, “ooalah iyo sek,” sahutku sambil mencoba mengingat ingat. “Apa ya Ded, sing urgent apa ya?”, jujur aku tidak begitu mengerti maksud Dedi karena aku masih memikirkan masalah mimpi itu, “lho, kamu kan kemaren janji, mau pinjemi aku uang”, sahut Dedi, aku pun tiba-tiba ingat kalau kemaren Dedi sms, ingin meminjam uang padaku, “Sory aku lupa, nih uangnya, tapi ingat kalau sudah dapat kiriman, langsung kembalikan”, sahutku sambil mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dompet. “Ok tenang, masalah uang kembali itu gampang, tapi kenapa to Yok kamu kok kayak orang bingung gitu?”, tanya Dedi, yang heran melihat aku agak gugup dan bingung, “kayak nya masalah mu itu berat, Yok, kamu butuh bantuan dari, seseorang”. kata Dedi sambil merangkul pundak ku, “seseorang yang sangat saayang banget sama kamu Yok”. “siapa?”, tanya ku. “Lhoo ya jelas aku tho Yok, siapa lagi yang sayang sama kamu kalau bukan aku, lha wong kamu jomblo”, “Halah wis, ngaco kamu, ingat ya, aku ini gak jomblo, tapi indie label”, “sudah aku mau cari Pak Wiwin, mau pengajuan revisi proposal kerjaku lagi”. sahut ku sambil bergegas. “Lha opo bedane Yok, jomblo karo indie label?”, “jomblo itu nasiib, kalo indie label itu idealiseme!!”, seru ku. Sebenarnya aku masih bingung mengahadapi manajerku itu. Apakah aku bisa meyakinkan dia untuk paling tidak mempertimbangkan proposal ku, jujur sebenarnya hari ini aku masih belum siap dan tidak fokus gara-gara mimpi misterius itu, tapi bagaimanapun juga aku tidak boleh menunda nunda waktu lagi, karena aku sadar ini adalah kesempatan emas, jika aku berhasil, maka karir dan masa depan cemerlang ada di depan mata, tapi jika gagal, hadehh, aku tidak tahu, apa aku akan dapat kesempatan lagi untuk handle sebuah event promo yang melibatkan produk dari perusahaan yang bonafid.
Cerpen Karangan: Wahyudi Warsaintia
Facebook: https://www.facebook.com/wahyudi.warsaintia

No comments:

Post a Comment

X-Steel - Unavailable