Friday, 26 September 2014

"KISAH CURUG CIPENDOK"

Konon dahulu akala di lereng gunung Slamet yang indah terdapat sebuah pousat pemearintahan setingkat Kawedanan. Rakyatnya ahidup aman dan tenteram, disamping mempunyai jiwa gotong-royong yang tinggi sebagai ciri khas masyarakat Banyumas. Sang penguasa pusat pemerintahan tersebut bernama Dipakesuma. Karena kearifan dan kebijakan sang Wedana, dia disegani oleh para wedana tetangga dan masyarakat di daerah Ajibarang. Suatu hari sang Wedana memanggil Hulubalang dan orang-orang kepercayaan nyanuntuk membicarakann keinginannya untuk menjadi Bupati Purbalingga atau sekitarnya. Setelah menyerahkan mandat penuh pemerintahan kepada wakilnya untauki semeantara, pergilah sang Wedana untuk bertapa agarb maksudny terkabul. Pada suatu hari sang Wedana ditremui oleh makhluk halus sebagai pertanda dalam bertapa akan membuahkan hasil untuk mencapai cita-citanya. Banyak versi yang mentnyebutkan bahwa makhluk halus itu berwujud peri menyerupai putri cantik sebagai perlambang dipenuhinya keinginan sang Wedana. Dari pertemuan tersebut ada beberapa kejadian aneh yang menyelimuti sang Wedana, antara lain sering berbicara sendiri yang kemungkinan tengah terjadi komunikasi antara dirinya dengan Sang Peri. Bahkan para pengikut sang Wedana terheran-heran mengapa Sang Wedana kelihatan aneh. Laku tapa sang wedana terus berlanjut . Setelah menempuh perjalanan ke utara ke arah di lereng gunung Slamet, tibalah dia di daerah Pekowen dekat curug. Sang Wedana bertapa di kawasan yang sepi dan penuh misteri itu. Karena kemantapan dan ketekunannya dlam bertapa, dia amendapat petunjuk dari dewata agar pindah lagi bertapa ke daerah Sudem. Pada suatu hari Sang Wedana memangil Hulubalang dan orang-orang kepercayaannya untuk menjadi penguasa yang lebih tinggi, sekaligus memohon doa restu kepada yang di undang. Suatu hari Sang Wedana mendapat wangsit, kalo cita-citanya ingin terkabul ia harus menikahi Putri Peri cantik penguasa Cipendok. Tetapi antara Dipakesuma dan Putri Peri ini tidak bisa terjadi perkawinan, karena alam kedua insan ini berbeda. Maka satu-satunya jalan yang ditempuh, putri peri itu masuk/Mnjing ke raga Padange (tukang masak nasi). Sang Wedana menikah dengan Padange yang sudah dimasuki arweah Putri Peri dari Gunung Slamet. Setelah menikah, Sang Wedana dapat menaiki tahta sebagai Bupati. Kisaqh cinta sang Wedana dengan Putri Peri dari Cipendok ini memang menarik, tetapi mungkin hanya dongeng yang berkembang layaknya kisah-kisah misteri lainnya yang banyak terdapat di kawasan Gunung Slamet. Legenda tersebut ternyata banyak versinya, tanpa menyinggung perasaan para leluhur dan trah sang Wedana. Itulah kenyataan cerita yang berkembang bahwa Sang Wedana menjalin asmara dengan Putri Peri yang rupawan. Apakah ini merupakan “sanepo”, kita belum mengetahui scara pasti, karena legenda ini berkembang dari mulut ke mulut dan turun temurun dari generasi ke generasi. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa arti nama Cipendok, tetapi yang jelas disekitar kawasan ini banyak nama yang didahului kata “Ci” seperti Cilongok, Cihonje, Cidora, Cikaka, Cikembulan dan lain-lain. Kawasan Ciupendok kini makin dikenal dan menjadi salah satu obyek wisata Kabupaten Banyumas.

No comments:

Post a Comment

X-Steel - Unavailable