Friday, 26 September 2014

"BANJIR BANDANG MELANDA KOTA BANYUMAS"

Masyarakat Banyumas yang kebetulan lewat dan singah di komplek Pondok Pesantren GUPPI Bayumas akan terkesima jika melihat “Prasasti” bani banding yang melanda Banyumas pata tanggal 21 – 23 Februari 1861. Prasasti yang ditempelkan di tembok bagian selatan gedung yang persis di pintu masuk kompleks mengunakan bahasa Belanda. Letaknya persis mengambarkan ketinggian air bah yang sampai ke langit-langit gedung tinginya sekitar 3,5 meter. Saat itu gedung masih dipakai untuk kantor Karesidenan Banyumas. Pasasti yang terbuat dari marmer tersebut menjadi saksi sejarah satu-satunya yang menerankan bahwa kota Banyumas pernah dlanda banjir besar. Bahkan para sesepuh kala itu sudah mendapat firasat yang digambarkan dengan sasmita, terkenal dengan nama sasmita “Bethik mangan manggar”. Semula semua orang tidak dapat menafsirkan apa makna dibalik kata-kata itu. Sesudah bencana banjirterjadi, barulah orang mengetahui makna yang tersirat dalam ucapan simbolik itu. “Bethik” adalah nama jenis ikan air tawar yang banyak hidup si sungai Serayu, sedangkan “Manggar” adalah adalah bunga pohon kelapa. Pohon kelapa yang sudah berumur kurang lebih 7 tahun kira-kira tinginya sudah mencapai 3-4 meter, biasanya sudah bermanggar. Jadi “Bethik mangan manggar” (Ikan bethik makan manggar) memberi lambang bahwa ikan yang hidup di air sungai dapat mencpai manggar yang berarti puncak pohon kelapa. Itu menyiratkan bahwa akan terjadi banjir yang cukup besar. Pasca terjadi banjir besar, Kanjeng Raden Adipati Cakranegara I berhasil mengatasi kesulitan rakyat akibat bencana banjir, sehingga mendapat anugerah berupa Bintang “Ridder Ode Eikken Kroon” dari pemerintah Belanda. Sjak saat itu beliau juga mendapat julukan Kanjeng Ridder. Banjir atau blabur Banyumas yang menjadi rangkaian sejarah Banyumas tidak akan terulang lagi, jika masyarakatnya sadar akan pentingnya penghijauan dan pelestarian alam. Jika kita lihat konisi saat ini, sepertinya banji besar tiak akan terlang lagi karena factor perubahan alam. Sungai Serayu tidak garang lagi, ada bangunan bendungan dan irigasi yang bisa mengatur alian air. Kejayaan kota Banyumas dapat dihidupkan kembali dengan mendirikan sekolah/perguruan tinggi, pusat perbelanjaan, taman budaya, serta perbaikan inra struktur. Program pembangunan tidak hanya dipusatkan di kota Purwokerto saja, tetapi kota Banyumas “disleberi” dana yang cukup dan para infestor mau menanamkan modalnya di kota yang bersejarah tersebut.

No comments:

Post a Comment

X-Steel - Unavailable