Friday, 26 September 2014

"KESENIAN TRADISIONAL BEGALAN"

Begalan atau rampok yang terdengar menyeramkan, dalam kebudayaan tradisional Banyumasan hanyalah merupakan nama kesenian yang bukan hanya menyajikan hiburan semata, tetapi sudah menjadi “sesaji” ritual bagi masyarakat banuumas yang mempercayainya. Kesenian ini tumbuh di wilayah eks Karesidenan Banyumas (Banyumas, Purbalingga, Banjarnrgara, dan Cilacap). Masyarakat Banyumas yang kini nbermukim di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota0kota besar lainnya masih mempercayai begalan sebagai pelengkap upacara pernikahan. Begalan umumnya dilaksanakan oleh pihak orang tua Pengantin putri yang baru pertama kali melaksanakan “mbarang gawe” (hajatan). Maka tidak heran jika group-grpu kesenian Begalan lebih sering pentas diluar Banyumas dari pada di wilayah Banyumas sendiri. Seni begalan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sejarah seni begalan yang berakar dari budaya Banyumasan telah mengalami pasang surut, bahkan generasi muda sekarang sudah banyak yang tidak mengerti atau buta sama sekali dwengan kesenian begalan. Ada beberapa versi seni begalan namun yang banyak ditulis dalam sejarah dan riwayat Banyumas menyatakan bahwa saeni begalan ada sejak jaman Adipati Wirasaba yang ketika itu mengawinkan anak (putri) yang bernama Dewi Sukesi dengan putri sulung dari dari adipati Banyumas yang berbama Pangeran Tirtakencana, ada yang menyebut terjadi pada abad ke 19. Dari perkembangan dan pasang surutnya seni begalan, diketahui bahwa begalan adalah suatu jenis kesenian yang merupakan rangkaian upacara perkawinan di daerah Banyumas dan sekitarnya. Biasanya dilakukan apabila pasangan pengantin terdiri dari anak bungsu dan anak sulung, terutama kalau yang bungsu atau sulung dari piohak perempuan. Menurut kepercayaan masyarakat banyumas, seni begalan merupakan syarat “krenah” yangh harus dilakukan apabila menjodohkan anaknya, merupkan syarat yang penting. Sebagian masyarakat Banyumas juga ada yang berpendirian, tidak setiap mengawinkan anaknya harus menggelar seni begalan. Ada keyakinan begalan juga mirip ruwatan. Seni begalan bukan semata-mata merupakan suatu hiburan atau pertunjukan belaka sebab dalam aksi dan dialognya berisi ajaran atau tuntunan dan ular-ular yang ditujukan kepada mempelai berdua. Sarana begalan seperti ilir, ukusan, kendil, padi, serta berbagai peralatan dapur lainnya mengandung makna tertentu. Biasanya para pelaku begalan menjelaskan makna peralayan begalan satu-persatu, yang semuanya mengandung permohonan/doa kepada sang maha kuasa agar mempelai berdua dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan sakinah warohmah dan mawahdah yang dalam bahasa begalan disebut keluarga langgeng “Kaya Mimi lan Mintuna, nganti Kaken-kaken Ninen-ninen”. Pada mulanya pelaku seni begalan tidak dibayar, bahkan lebih cenderung menolong, semata-mata merupakan tradisi ruwatan agar upacara pernikahan dapat berjalan lancar. Keturunan warga Banyumas yang ada diluar daerah bahkan harus bersusah payah mencari group begalan yang berlualitas.. Dari kbiasaan ditanggap inilah yang kemudian seni begalan masuk ke rahan entertainment dan memasang tarif yang cukup besar dalam setiap pementasan. Begalan bewrasala dari kata begal dan akhiran an, artinya perampasan atau tindak perampokan di tengah jalan. Maka kesenian begalan adalah suatu atraksi yang menggambarkan seseorang yang sedang membawa barang bawaan kebutuhan hidup, kemudian dirampok di tengah jalan. Dengan diiringi genhing-gendhing khas Banyumasan mereaka melakukan diaek serta pesan moral yang diselingi banyolan, sindiran, sekaligus petuah kepada para penontonnya. Gendhing yang dipilih biasanya bernada dinamis dana suasana riang untuk menghidupkan suasana. Ketika suara genghing berhenti, mulailah para pembegal memperkenalkan diri dan terjadi dialog. Seperti layaknya tukang begal, maka ada adegan pertengkaran dan adu mulut, sambil menjelaskan arti dan makna barang bawaan yang semuanya dikemas dalam “brenong kepang”(semacam pikulan). Masyarakat yang mernonton biasanya mengharapkan momentum berebut benda yang ada di brenong kepang. Mereka percaya jika dapat merebut/mendapatkan benda-benda-begalan akan mendapat berekah. Dalam perkembangannya seni begalan dianggap bertentangan dengan agama (Islam), karena jika tujuannya hanya untuk mengusir roh jahat makalebih afdol jika cukup dengan membaca doa bersama agar mempelai berdua dapat selamat dan bahagia. Perkembangan lebih lanjut, begalansemakin surut peminatnya seiring dengan perubahan jaman. Untuk melestarikan seni tradisional ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata belum lama ini telahg menyelenggarakan seminar tentang begalan. Dinbudpar juga terus menggali, melestarikan, mengembangkan dan memberdayakan potensi pariwisata dan kebudayaan dalam rangka mewujudkan Banyumas sebagai kawasan cagar budaya, agar generasi muda dapat lebih tertarik memahami seni begalan, tidak hanya sebatas “krenah” dalam upacara pernikahan.

No comments:

Post a Comment

X-Steel - Unavailable